Terampil, Warga Binaan La’permata Ahli Membuat Sasirangan Eco Printing

SEMANGAT - Warga Binaan La'permata sangat semangat belajar dan cara membuat kain sasirangan dengan cara Eco Printing.

MartapuraKlik – Salah satu inovasi pembuatan kain sasirangan melalui metode pewarnaan dan pembuatan motif dari Eco Printing ini mulai ramai diminati di Kalsel.

Untuk itu, melalui kegiatan kemandirian, Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Martapura (La’permata) melaksanakan pelatihan keterampilan sasirangan bersertifikat Tahun Anggaran 2022.

Read More

Pelatihan tersebut, diikuti sebanyak 20 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) La’permata. Sebagai instruktur materi Eco Printing terkait pelatihan sasirangan kepada WBP ini dipimpin oleh Najmi Saadah.

“Eco Printing merupakan cara mewarnai dan membuat motif pada kain dengan menempelkan bentuk asli tumbuhan pada pakaian,” kata Najmi Saadah, Rabu (23/3/2022).

Biasanya, pembuatan Eco Printing pada kain memerlukan bahan-bahan kain dengan serat alami seperti katun, sutera, atau kanvas, koran, daun-daunan atau bunga, Air cuka, palu/gelas kaca, campuran air tawas, panci untuk mengukus.

Puluhan peserta pun tampak semangat mengikuti pelatihan Eco Printing kain. Mulai belajar bagaimana tekniknya hingga mempraktikkan cara membuatnya.

“Mulai dari merendam kain putih polos dengan air tawar hingga mencetak berbagai jenis dedaunan. Seperti daun kayu jaran, daun lanang, daun camalina, daun eucalyptus, daun afrika, daun suren, daun jati, daun jambu biji dan daun singkong,” tuturnya.

Dari pelatihan ini, lanjut Najmi Saadah, menghasilkan motif dan warna alami yang keluar dari getah daun-daun tersebut.

Menurutnya, proses pembuatan ini juga memerlukan kecermatan dan ketelatenan ketika menumbuk daun-daun atas kain agar coraknya nampak.

“Tidak heran harga jual dari Kain Sasirangan Eco Printing ini lumayan mahal dibandingkan kain sasirangan berbahan pewarna sintetis,” sebutnya.

Lebih jauh dipaparkannya, hasil sasirangan Eco Printing yang dubuat oleh Warga Binaan ini sudah cukup bagus dan nampak motifnya.

“Mereka sangat antusias untuk mencoba berkreasi dengan berbagai macam daun untuk di aplikasi kan pada kain. Jadi, mereka tahu mana daun yang bagus untuk dapat memunculkan motif dan daun apa yang kurang bagus dijadikan motif,” pungkas Instruktur Pelatihan. (ari)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *