Tak Dirawat Perusahaan, Petani Alalak Padang Mengeluhkan Kebun Plasma Terbengkalai

TAK DIRAWAT - Kebun Plasma Kelapa Sawit di Desa Alalak Padang terbengkalai lantaran tidak ada perawatan oleh PT BIT.

MartapuraKlik – Para Petani Alalak Padang, Kecamatan Cintapuri, Kabupaten Banjar, mengeluhkan lahan Plasma Kelapa Sawit di desanya terbengkalai, lantaran tidak dirawat oleh perusahaan bersangkutan.

Berdasarkan pantauan di lapangan pada pekan lalu, ratusan hektare lahan tersebut tampak tertutup semak belukar dan rumput liar.

Read More

Dampak tidak dirawatnya ini menyebabkan kelapa sawit banyak tidak berbuah bahkan, sebagian pohon mati.

MENGELUH – Taufikurrahman yang mewakili petani setempat, mengeluhkan pembagian hasil tidak sesuai dan pada 2021 pihaknya sudah tidak mendapatkannya.

Keluhan ini pun diungkapkan Taufikurrahman selaku perwakilan petani setempat. Ia menyebutkan bahwa ada sekitar 600 hektare lahan yang masuk plasma yang dikelola PT Borneo Indotani (BIT) bekerja sama Koperasi Unit Desa (KUD) Mas Intan Jaya, sejak 2012 lalu.

“Dari ratusan hektare lahan plasma tersebut, 48 hektar di antaranya milik Petani di Desa Alalak Padang,” sebutnya.

Mereka mengaku kecewa terhadap PT BIT karena tidak merawat lahan plasma itu dengan baik. Ironisnya pembagian hasil tidak sesuai dengan perjanjian awal dan merugikan para petani setempat.

“Bahkan, sejak 2021 lalu. Para petani malah tidak menerima pembagian hasil pertanian yang sudah dipanen,” keluhnya.

Taufikurrahman mengungkapkan, para petani sudah mengajak mediasi kepada pihak KUD dan perusahaan.

“Namun, beberapa kali sudah dilakukan mediasi. Tetap saja belum menemukan titik terang,” ungkapnya.

Lantaran tidak ada titik terang dari mediasi tersebut, lanjutnya, petani sempat mengambil alih lahan dan merawatnya secara mandiri.

“Saat lahan plasma tersebut telah berbuah, pihak perusahaan melarang untuk dipanen. Warga tak bisa berbuat apa-apa karena polisi juga dilibatkan untuk mengawal perusahaan,” ujarnya.

Kini lahan plasma kelapa sawit tidak bisa dipanen sama sekali. Pasalnya, petani pun juga melarang perusahaan memanennya, hingga buahnya sebagian mulai membusuk.

“Kami berharap perusahaan mengembalikan 48 hektare lahan kami, untuk dikelola secara mandiri,” tutupnya. (ari)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *