Sebulan Lebih Penutupan Jalan Hauling KM 101, Beginilah Suara Tangis Warga yang Terdampak

Sebulan Lebih Penutupan Jalan Hauling KM 101, Beginilah Suara Tangis Warga yang Terdampak
MENANGIS - Istri salah seorang sopir angkutan yakni Yola. Hanya bisa menangis terisak dan berharap agar segera dibuka kembali.

MartapuraKlik – Suara tangis warga mewarnai dampak dari penutupan Jalan Hauling Underpass KM 101 Desa Tatakan, Kecamatan Tapin Selatan, Kabupaten Tapin.

Hingga saat ini saja, belum ada kejelasan terkait nasib warga sekitar yang sehari-harinya bergantung hidup memanfaatkan jalan tersebut.

Read More

Pasalnya, sudah sebulan lebih semenjak penutupan jalan tersebut yang menyebabkan perekonomian warga turut terhenti.

Mayoritas warga yang berprofesi sebagai sopir angkutan batubara sudah selama sebulan terakhir kehilangan mata pencaharian, sedangkan dampak lain turut dirasakan oleh warga yang berjualan di wilayah tersebut.

Seperti halnya yang dirasakan Yola, istri dari salah seorang sopir angkutan ini, hanya bisa menangis terisak sembari berharap dan memohon agar Jalan Hauling dapat segera dibuka kembali.

“Tolong suami-suami (Sopir Angkutan) kami agar dapat bekerja lagi, beras kami sudah habis, kami mau makan apa?, sementara kami tidak memiliki penghasilan lain,” cetusnya.

Terlebih, Yola menyampaikan, dalam waktu dekat anak-anaknya akan kembali bersekolah.

Sebulan Lebih Penutupan Jalan Hauling KM 101, Beginilah Suara Tangis Warga yang Terdampak
MENGELUH – Firman, sopir angkutan batubara yang terdampak akibat penutupan jalan tersebut, mengaku kesulitan dalam perekonomiannya.

“Bagaimana kami membiayai sekolah anak-anak kami kalau begini,” tuturnya sembari menangis terisak.

Di tempat terpisah Mukhlis, yang sehari-harinya berjualan, namun akibat dari penutupan jalan hauling tersebut kini, ia beralih profesi dengan melakukan kegiatan menangkap ikan untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Dulu waktu jalan masih dibuka penghasilan bersih dari berjualan bisa 100 ribu sehari, semenjak ditutup sepi tidak ada aktivitas tidak ada penghasilan, terpaksa kita beralih membuat perangkap ikan buat dijual,” sebutnya.

Mukhlis mengakui, jika penghasilannya dengan membuat perangkap ikan sangatlah tidak mencukupi.

“Sekarang bayar kontrakan aja tertunggak, semoga pihak-pihak terkait dapat menormalkan lagi keadaan sebagaimana asalnya,” harapnya.

Lain hanya menurut pengakuan Firman, salah seorang sopir angkutan yang merasakan dampak langsung dari penutupan jalan hauling km 101 tatakan, ia mengaku jika dulu dalam sebulan dapat menghasilkan hingga Rp. 8 juta. Namun, untuk saat ini keadaan justru sangat sulit.

“Sekarang nyari 2 juta aja susah, terlebih banyak teman-teman satu profesi yang terlilit hutang untuk menutupi kebutuhan mereka,” bebernya.

Diketahui, akibat penutupan jalan hauling tersebut hingga saat ini, masyarakat sangat berdampak khususnya pada sektor perekonomian, baik berdampak secara langsung maupun tidak langsung. Baik para pekerja sopir angkutan maupun warga setempat. (ari)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *