Meresahkan, Dukun di Karang Intan Mengaku Bisa Mendatangkan Uang dari Alam Sebelah

TINDAK TEGAS - Krisnha Dewa selaku Advokat dari Kantor Equity Legal Law Firm Banjarmasin, akan melakukan tindakan tegas kepada dukun tersebut.

MartapuraKlik –¬†Seorang Advokat dari Kantor Equity Legal Law Firm Banjarmasin Krisnha Dewa, belum lama tadi mendapatkan pengaduan dari seorang perempuan (korban) dan meminta bantuan hukum terkait adanya dugaan tindak asusila oleh dukun yang berada di Karang Intan dan mengaku tuan guru di Kalsel.

Pasalnya, korban merasa dibodohi oleh dukun tersebut dengan iming-iming jika berhasil memenuhi persyaratan ritual yang tidak masuk akal seperti, melakukan hubungan badan, akan menerima sejumlah uang Rp.800 juta dari alam sebelah.

Read More

“Karena terlilit hutang yang cukup banyak, si korban terpaksa menyetujui persyaratan yang diajukan dukun itu. Namun kenyataannya tidak terbukti,” ucapnya, kepada MartapuraKlik beserta sejumlah awak media lainnya, saat jumpa pers disalah satu Cafe Banjarbaru, belum lama tadi.

Atas kasus itu, pihaknya akan segera melakukan tindakan tegas kepada dukun tersebut karena yang menjadi korban bukan hanya satu orang saja.

“Berdasarkan informasi pembakal setempat, yang menjadi korban lebih dari satu orang dan juga meminta keadilan hukum,” ungkapnya.

Kronologis singkatnya, saat itu korban mendapatkan informasi bahwa di Kecamatan Karang Intan ada seorang mengaku tuan guru (dukun) yang bisa mendatangkan uang dari alam sebelah.

Persyaratan ritual yang diminta dukun ini, di antaranya sperma sehabis berhubungan, rambut, kembang dan lain-lain dikumpulkan menjadi satu ke dalam botol untuk dijual ke alam sebelah, dengan pertukaran itu mendapatkan uang ratusan juta rupiah.

Selang kurang lebih 10 tahun berlalu, tepatnya di Februari 2022. Dukun cabul ini kembali berkomunikasi secara online dan menawarkan ritual tersebut kepada korban.

“Dukun cabul ini memberitahukan bahwa ada orang yang berhasil mendapatkan uang hasil ritualnya. Akhirnya, si korban menerima tawaran itu dan kembali melakukan ritual. Tapi kenyataannya tidak terbukti lagi, hingga korban meminta bantuan hukum lantaran merasa dibohongi,” ujarnya.

Ketika ditanya awak media, kenapa kasus ini tidak ditindaklanjuti ke tahap penyidik di Polres Banjar? Ia mengaku, lantaran kurangnya alat bukti dan begitu sulitnya para pencari keadilan untuk mencari keadilan seperti kasus seperti ini.

“Bukan kasus pelakunya ditangkap, malah yang ada perundungan dari korban. Hal itu yang kami hindarkan kenapa sampai saat ini belum melakukan pelaporan ke polisi,” akunya.

Memang secara materi tidak ada kerugian, tambah Krisnha Dewa, namun secara sosial dan psikis cukup berat dibebannya.

“Karena saat melakukan hubungan badan dengan dukun ini, sebenarnya suami si korban menunggu di ruang tamu tanpa mengetahui ritual yang sedang dilakukan, hingga suami korban meninggal dunia. Ini menjadi beban moril korban, bahkan kalau dinilai dari segi materi, tidak bisa terhitung,” tutupnya. (ari)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *