Menangkap Peluang Usaha Budidaya Edamame di Kota Banjarbaru

PERTANIAN: Saat ini pembudidayaan edamame ada di Kota Banjarbaru, terutama di Kecamatan Cempaka dan Kecamatan Landasan Ulin.

Oleh Muhammad Rifki dan Luthfi Mahfudh, Mahasiswa Jurusan Agroekoteknologi Faperta ULM

Apakah Anda sudah mengenal edamame? Edamame adalah jenis kacang kedelai yang semakin populer dan digemari oleh banyak orang. Bagi yang belum mengenalnya, mungkin mengira bahwa edamame hanya seperti kedelai biasa yang digunakan untuk membuat tempe atau tahu.

Read More

Padahal, edamame memiliki perbedaan yang signifikan, terutama dalam ukuran, warna, dan rasa. Edamame memiliki ukuran yang lebih besar, berwarna hijau cerah, dan memiliki rasa yang lezat dan gurih. Biasanya, edamame disajikan dalam bentuk kacang rebus yang sangat lezat.

Di pasaran, Anda juga dapat menemukan edamame beku yang praktis, hanya perlu direbus sebentar atau menggunakan microwave. Selain rasanya yang gurih, edamame juga kaya akan protein.

Edamame sering disebut sebagai “kedelai Jepang” oleh sebagian besar masyarakat. Biasanya, edamame dijadikan camilan sehat yang memiliki rasa alami yang nikmat tanpa tambahan perasa. Saat ini, ada berbagai olahan edamame yang dapat dinikmati, mulai dari camilan rebusan hingga produk seperti kacang edamame goreng, kue, kue kering, tempe, yogurt, susu kedelai edamame, salad, dan lainnya.

DIGEMARI: Edamame adalah jenis kacang kedelai yang semakin populer dan digemari oleh banyak orang.

Kandungan nutrisi yang tinggi dalam edamame semakin meningkatkan minat dan kecintaan terhadap kacang ini. Seiring dengan peningkatan minat ini, jumlah petani edamame di Indonesia juga terus bertambah.

Meskipun Kabupaten Jember di Provinsi Jawa Timur masih menjadi pusat budidaya edamame di Indonesia, daerah lain seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan wilayah di luar Pulau Jawa juga mulai mengembangkan budidaya ini.

Salah satunya adalah Kota Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan. Kota Banjarbaru, yang juga berfungsi sebagai kota penyangga pangan, khususnya dalam bidang hortikultura, seperti sayuran hijau dan komoditas hortikultura lainnya, termasuk edamame.

Budidaya edamame di Kota Banjarbaru saat ini terutama berlokasi di Kecamatan Cempaka dan Kecamatan Landasan Ulin. Salah satu petani edamame, Muhammad Munanto di Cempaka, menceritakan bahwa budidaya edamame mulai dikenalkan oleh Dr. Untung Santoso, S.Si., M.S, yang juga merupakan Dosen Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat pada tahun 2018.

Menurut Munanto, awalnya ia tertarik dan mencoba menanam edamame sebagai tanaman sampingan untuk melihat potensinya. Seiring berjalannya waktu, pertumbuhan edamame sesuai dengan harapannya. Tanaman ini juga tidak memerlukan tanah yang sangat baik; yang diperlukan adalah pH tanah sekitar 5,8, cukup bahan organik, dan nutrisi yang mencukupi.

Penyiraman tanaman secara rutin diperlukan jika tidak ada hujan, dan pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan menggunakan pestisida nabati yang dibuat sendiri. Hasil panen sangat baik, bahkan bagi petani pemula seperti Mas Munanto. Harga jual saat ini berkisar antara Rp25 hingga Rp28 ribu per kilogram dari petani.

Jika Anda tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang budidaya edamame, prospek bisnisnya sangat menjanjikan. Pasar untuk edamame masih terbuka lebar, dan harga jualnya cenderung menguntungkan. Permintaan untuk edamame juga tinggi, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Cara budidaya edamame relatif tidak sulit, hampir sama dengan cara budidaya kedelai biasa. Bahkan jika Anda tidak memiliki lahan yang luas, Anda masih bisa membudidayakan edamame secara skala rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *