Memasuki Penghujan, Dinas TPH Kabupaten Banjar Imbau Para Petani Menunda Tanam

Memasuki Penghujan, Dinas TPH Kabupaten Banjar Imbau Para Petani Menunda Tanam
WAWANCARA - Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan dan Hortikultura Banjar Nurul Chatimah, memberikan keterangan kepada sejumlah awak media terkait penundaan proses tanam saat memasuki penghujan ini.

MartapuraKlik – Memasuki musim penghujan, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Kabupaten Banjar mengimbau kepada para petani agar menunda proses tanam.

Imbauan kepada kelompok tani ini juga sudah diinformasikan melalui siaran radio dan surat edaran kepada BPP (Badan Pelaksana Penyuluh) di kecamatan masing-masing di Kabupaten Banjar.

Read More

Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan dan Hortikultura Banjar Nurul Chatimah menjelaskan, imbauan dan surat edaran ini berisi, langkah percepatan tanam terutama di lokasi yang mencapai genangannya di Januari 2022, dan menganjurkan petani menggunakan benih varietas yang tahan oleh genangan air.

“Dengan menggunakan benih varietas yang tahan oleh genangan air ini diharapkan benih tersebut bisa bertahan jika terjadi banjir di tempat tersebut,” jelasnya.

Kendati benih tersebut tahan genangan air, lanjut Nurul, namun apabila tergenang hingga 2 bulan seperti di Sungai Tabuk, tentu akan mati.

“Meski benih varietas tahan oleh genangan air, jika tergenang air semalam 2 bulan. Tentu bisa berdampak terjadi fuso (gagal panen). Karena varietas tersebut hanya bisa bertahan selama 2 minggu saja,” sebutnya.

Menurutnya, para kelompok tani menunda tanam terlebih dahulu. Apabila sudah terlanjur menanam, pihaknya akan mendata.

“Kalau ternyata tanaman terjadi kebanjiran dan mengalami gagal panen. Kami akan mengusulkan melalui APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) atau APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) untuk dibantu penggantian benihnya,” jelas Nurul.

Disamping itu, pihaknya juga menyarankan kepada para petani agar mengikuti program asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).

“Sasaran penyelenggaraan AUTP adalah terlindunginya petani dengan memperoleh ganti rugi jika mengalami gagal panen. Petani hanya membayar Rp. 36 ribu untuk satu musim tanam,” tutupnya. (ari)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *