Dekat Tambang, SDN Bawahan Selan 6 Mataraman Terancam Ambruk

MartapuraKlik – Berdekatan dengan tambang batubara milik CV. Perintis Bara Bersaudara, Sekolah Dasar Negeri (SDN) Bawahan Selan 6, Kecamatan Mataraman, Kabupaten Banjar terancam ambruk.

Pasalnya, jarak antara tambang dan SDN tersebut hanya 10 meter saja. Terlebih bisa membahayakan bagi siswa dan siswi di sekolah itu.

Read More

Berdasarkan peraturan Kementirian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) nomor 1827 K/30/MEM/2018, tentang pedoman pelaksanaan pertambangan yang baik.

Dalam peraturan tersebut, diwajibkan pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) untuk mempertimbangkan jarak aman terhadap bangunan perumahan penduduk, fasilitas umum, situs sejarah, cagar budaya, badan perairan umum dan perkebunan. Dengan jarak yang disepakati adalah 100 meter.

Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (DisperkimLH), Banjar IMursal mengatakan, kegiatan tersebut bukan ilegal mining. Karena masuk dikonsesi milik CV. Perintis Bara Bersaudara.

“Kami telah menyurati pemegang IUP tersebut agar sesuai dengan kaedah Good Mining Practices (kaedah pertambangan yang baik dan benar, red), dan akan melakukan tindakan. Serta kami juga telah melakukan pemantauan,” katanya, Kamis (17/11/2022).

MENINJAU – Kapolres Banjar AKBP Doni Hadi Santoso didampingi Kasat Reskrim Polres Banjar Iptu Fransiskus Manaan bersama pihak terkait, meninjau ke lokasi SDN Bawahan Selan 6 Mataraman.

Terkait dengan belum adanya penindakan, Mursal mengaku pihaknya masih ragu karena kewenangan pertambangan masuk ke Kementirian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM).

“Beberapa hari lalu, kami telah melakukan konsuktasi ke kementrian, terkait kewenangan terhadap pelanggaran lingkungan yang ada di imi. Kami mendapatkan informasi jika dokumen lingkungan yang dikeluarkan oleh Kabupaten, kewenangan tersebut di Kabupaten, dan untuk yang dikeluarkan kementerian ada di kementrian,” ungkapnya.

Selain itu, tindakan yang dilakukan oleh pihaknya kepada CV. Perintis Bara Bersaudara, berkaitan dengan melakukan kegiatan pertambangan yang berdekatan dengan vasilitas umum.

“Tentunya ini membahayakan, baik itu dari infrastruktur atau masyarakat. Guna menutup kembali dan melakukan penanaman agar tidak berbahaya lagi,” ujarnya.

Sementara, Kasi Penanganan Hukum Lingkungan DisperkimLH Banjar Iman Syafrizal menambahkan, kegiatan pertambangan di daerah tersebut ada kelalaian.

Menurutnya, pihak pelaksana CV. Perintis Bara Bersaudara di lapangan kemungkinan belum mengkaji. Sehingga bisa berdekatan dengan sekolahan.

“Mereka kurang cermat, biasanya karena terget produksi, jadi lalai akan hal ini,” ucapnya.

Terkait pidana, lebih jauh dikatakannya, harus ada pencemaran dan ada korban maka akan ada tindakan pidana. Namun hingga saat ini belum ada terjadi hal tersebut, jadi pihaknya akan lebih mengutamakan pembinaan.

“Jadi undang-undang lingkungan hidup itu, ketika menyangkut korban dan harta benda itu ada tindakan pidana,” pungkasnya.

Dari data yang didapat, SDN Bawahan Selan 6 telah berdiri sejak Tahun 1982, dan untuk CV. Perintis Bara Bersaudara memiliki izin sejak 2015. Namun operasi peroduksi sejak 3 tahun terkahir dan mendapat Konsesi lahan seluas 1864 hektar. (ari)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *